Cerita Prasmul

Upaya Bumilangit Membentuk Gelombang Budaya Indonesia Di Dunia

Indonesia terdiri atas 1.331 suku dan 652 bahasa daerah. Artinya, tanpa semangat keberagaman, persatuan, dan toleransi, kita akan terus menemukan berbagai perbedaan yang berujung pada perpecahan. Inilah sebabnya kita harus terus merayakan dan menghayati makna Sumpah Pemuda, serta memegang teguh semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Foto: Beberapa Aktivitas dalam Perayaan Sumpah Pemuda Universitas Prasetiya Mulya

Selasa (12/11) lalu merupakan waktu bagi Prasmulyan untuk merayakan Sumpah Pemuda. Bertajuk ‘Eksplorasi Kolaboratif Nilai Sumpah Pemuda Berwawasan Lingkungan’, mahasiswa disuguhkan berbagai inspirasi untuk mengisi kemerdekaan secara positif melalui karya-karya yang akan mereka lahirkan. Salah satu aktivitas pengisi acara tersebut adalah Seminar Film oleh Bumilangit. 

BUMILANGIT DAN KEARIFAN LOKAL INDONESIA

Jika kamu belum mengetahui siapa Bumilangit itu, barangkali kamu sudah familiar dengan salah satu karyanya; Gundala. Sempat menggemparkan dunia perfilman Indonesia pada bulan Agustus lalu, film garapan sutradara Joko Anwar ini merupakan pembuka dari seri live-action pahlawan super Indonesia, Bumilangit Cinematic Universe (BCU).

Gundala hanyalah satu karakter dari Era Patriot yang ada di Jagat Bumilangit. Perusahaan ini menghimpun lebih dari 500 karakter superhero asli Indonesia yang ceritanya diambil dari sejarah dan cerita nusantara. Karakter tersebut pun dibagi kedalam empat era: Era Legenda (20.000 – 5.000 Tahun sebelum masehi), Era Jawara (Tahun 1300 – 1900), Era Patriot (Tahun 1900 – 2000), dan Era Revolusi

“Kami ingin membentuk gelombang budaya Indonesia. Bila cerita superhero Amerika berhasil menyebarkan narasi Great Power, Great Responsibility, Bumilangit punya 500 lebih karakter untuk memperkenalkan narasi Bhineka Tunggal Ika,” ujar Pak Oyas Sujiwo (Chief Editor Bumilangit) ketika menjelaskan tentang benang merah cerita setiap karakter. 

PERJUANGAN RUMIT BUMILANGIT

Mempengaruhi dunia tentunya bukan hal yang mudah. Sejak tahun 2003 hingga 2019, terdapat beragam fase yang harus dilewati Bumilangit untuk menciptakan produk yang bisa dinikmati semua kalangan. 

Bapak Oyas Sujiwo (Chief Editor Bumilangit)

“Ambisi kami dimulai dengan merestorasi cerita bergambar jadul,” jelas Pak Oyas. Restorasi diperlukan agar komik-komik Bumilangit bisa dicetak ulang dengan kualitas yang baik. “Kami nggak punya gambar originalnya. Kalau kami cetak ulang gambar yang sudah ada, kualitasnya akan seperti hasil fotokopi,” tambahnya. 

Setelah restorasi, Bumilangit harus menyesuaikan model bisnisnya untuk meraih target pasar yang lebih luas. Menargetkan anak-anak, remaja, dan dewasa, Bumilangit harus menciptakan karakter baru yang sesuai dengan tiap kelompok umur. Selain itu, perusahaan pun harus mengeksplorasi berbagai media produksi seperti komik, webtoon, animasi TV, buku, dan film.

GUNDALA: SEBUAH PEMBUKA YANG SENSASIONAL

Di tahun 2019, karakter milik Bumilangit mulai dikenalkan kepada pecinta film lewat Bumilangit Cinematic Universe (BCU). Film pertamanya, Gundala, berhasil mencuri perhatian 1.5 juta penonton Indonesia. Kesuksesan film ini membuatnya mampu memutar roda bisnisnya sendiri lewat berbagai bentuk Partnership dan penjualan merchandise.

Gundala pun mampu memukau penikmat film internasional lewat pemutarannya di Toronto International Film Festival (TIFF). Meski demikian, Pak Oyas menyatakan bahwa kesuksesan tersebut bukanlah yang paling membanggakan. “Bagi kami, yang paling membanggakan itu ketika melihat film ini bisa menjadi playground seniman lainnya,” jelasnya. Hal ini terlihat jelas dari adanya ribuan unggahan pada tagar #GundalaFanArt dan #GundalaSongTribute di instagram.

Foto: Hasil #GundalaFanArt di Instagram

Ditengah kesuksesan film pertamanya, Bumilangit tidak mau menjadi lengah. Menurut Pak Oyas, agar narasi Bhinneka Tunggal Ika benar-benar bisa tersampaikan kepada dunia, kesuksesan Gundala juga harus dicapai oleh seluruh karakter BCU. “Perjalanan kami masih panjang, dan kami akan terus butuh ide-ide segar dari pemuda untuk mencapainya,” tutup Pak Oyas.


Sama halnya dengan para pelaku industri di Indonesia, Prasmulyan pun datang dengan berbagai karakteristik. Oleh karena itu, setiap Prasmulyan wajib untuk menjunjung tinggi toleransi dan persatuan. Melalui perayaan Sumpah Pemuda, Universitas Prasetiya Mulya mengajak mahasiswa untuk melihat indahnya perbedaan. Pada akhirnya, mereka tidak akan merasa canggung ketika harus berkolaborasi dengan etnis, suku, dan agama yang berbeda, demi Indonesia yang lebih sejahtera.

Witha Shofani

Witha Shofani

Add comment

About Us

About Us

Our Main Website

Our Main Website

Instagram @Prasmul

Instagram has returned invalid data.
Prasmul on Media

See Prasmul on these Media!

[nextpage title=”1″ ]

September 2018

[/nextpage][nextpage title=”2″ ]

Agustus 2018

[/nextpage][nextpage title=”3″ ]

Juli 2018

Juni 2018

[/nextpage][nextpage title=”4″ ]

Mei 2018

April 2018

[/nextpage][nextpage title=”5″ ]

Maret 2018

[/nextpage][nextpage title=”6″ ]

Februari 2018

[/nextpage][nextpage title=”7″ ]

Januari 2018

Oktober 2017

Oktober 2017

[/nextpage][nextpage title=”8″ ]

September 2017

Agustus 2017

[/nextpage]