Cerita Prasmul
Sah atau Tidak: Membeli Followers Untuk Meningkatkan Bisnis di Medsos

Sah atau Tidak: Membeli Followers Untuk Meningkatkan Bisnis di Medsos

Kalian pasti setuju, dewasa ini, media sosial atau medsos merupakan produk internet yang terintegrasi dengan lifestyle sebagian besar masyarakat dunia. Bahkan, berdasarkan laporan dari Tetra Pax Index yang rilis bulan September 2017 lalu, dari 132 juta pengguna internet di Indonesia, sebanyak 106 juta di antaranya mengakses medsos tiap bulan.

Tak lagi sekadar menjadi sarana penghibur, medsos kini menjadi bagian dari marketing strategy untuk para pebisnis. Tampaknya simpel saja; mengambil foto produk dengan kamera ponsel, mengunggahnya ke Instagram, lalu menunggu pembeli berdatangan. Tapi nyatanya, berkompetisi dengan jutaan saudagar lainnya tidak semudah memberikan double-tap. Dalam usaha meningkatkan penjualan, banyak pemilik online shop yang akhirnya tergoda untuk membeli follower, hal yang dianggap taboo di dunia digital. Namun menurut Dennis Adhiswara, Founder & CEO Layaria, mengeluarkan uang untuk memancing follower baru merupakan hal yang sah-sah saja. Kok bisa?  

Dennis Adhiswara menjadi salah satu pembicara dalam acara Makers Talk, yang juga dihadiri Bagus Satrio Wicaksono dan Jerry Aurum.

Dalam talk show bertajuk Makers Talk yang diadakan di Audiotorium William Soeryadjaya, Universitas Prasetiya Mulya, hari Selasa (2/3) lalu, medsos menjadi topik pembicaraan yang tidak terhindarkan. Dalam rangka memajukan industri kreatif Indonesia, Dennis menjadi salah satu dari tiga pembicara yang hadir. Di sini, ia berbagi pengalaman serta ilmu mengenai perjalanan kariernya, begitu juga usahanya dalam beradaptasi dengan teknologi yang kian berkembang.

 

Kreativitas Tidak Bisa Dibeli

Menurut Dennis, tiap konten atau postingan di media sosial –baik untuk berjualan atau kepuasan pribadi- memiliki tiga values. Pertama adalah creative value, sebuah konsep yang tidak bisa didapatkan dengan merogoh kantong. “Hal ini karena creative value muncul dari otak dan gagasan kita,” jelasnya.

Aktor sekaligus videographer ini memberikan contoh yang sering diaplikasikan generasi muda dalam kehidupan sehari-hari: memotret makanan. Kegiatan sepele tersebut menjadi bukti nyata kerjanya otak kreatif tiap pelaku, di mana ada proses yang dilalui untuk mendapatkan sudut pengambilan foto yang bisa menghasilkan konten yang cantik dan maksimal.

“Sering kali kita foto makanan minimal tiga kali dan dari berbagai macam angle,” ujar Dennis sambil meniru gerakan berfoto. “Itu sebenarnya ada creative value yang sedang bekerja.”

 

Audio dan Visual Berperan Penting Dalam Konten

Menurut Dennis, ada tiga values yang muncul ketika seseorang menaikkan suatu post ke medsos.

Gagasan kedua yang dijabarkan oleh pria yang juga berprofesi sebagai dosen pengajar tersebut adalah production value. Segala hal yang dapat dilihat atau didengar oleh konsumen medsos termasuk ke dalam nilai ini. Berbeda dengan sebelumnya, pengguna bisa mengakali tingginya nilai konten menggunakan materi berharga.

Let’s say ada dua foto atau video makanan … Sama-sama pakai kamera handphone, sama-sama makanan biasa, tapi [salah satu foto] ada bokeh-nya,” terangnya. “Biasanya orang akan cenderung melihat yang ada bokeh-nya, karena di mata terlihat lebih asyik.

Gambaran lain yang diberikan Dennis adalah pemilihan pakaian seseorang. Semisal style yang dipertontonkan dianggap matching, unik, dan berkonsep, maka hal tersebut akan mengundang engagement dari para pemakai medsos.

 

Sah Saja Membeli Followers di Media Sosial

Engagement dalam media sosial merupakan bagian ketiga dan terakhir dari nilai konten yang dipapar oleh Dennis, yaitu distribution value. Sang produser dan sutradara tersebut menguraikan bahwa value ini mencakup segala hal yang bisa dihitung, mulai dari like, retweet, komen, sampai followers.

“Apakah sah-sah saja untuk beli follower? Saya akan jawab ‘ya’,” Dennis menyatakan dengan mapan. Namun kemantapan tersebut disertai dengan peringatan penting. “Tapi kalau bisa, belinya pakai Instagram ads. Jangan beli melalui jasa penambah follower. Hati-hati, jasa-jasa seperti itu kebanyakan memakai bot, bukan akun asli.”

Jasa penambah follower yang merajalela di platform medsos seperti Instagram dan Twitter memang menggiurkan dan bisa memberikan perbedaan drastis sampai puluhan ribu. Namun dipenuhi dengan akun palsu dan bot, distribution value pun akan turut merosot karena konten yang telah di-post tidak tersebar ke konsumen nyata.

 

Mempertemukan Dua Generasi

Dennis menginginkan sebuah kolaborasi antara yang paham digital dengan praktisi seni manual.

Sebelum mengakhiri sesi talk show, penggagas Kratoon Channel dan Creators Academy Indonesia tersebut memberikan satu saran lagi. “Di sini kita lihat ada generasi yang sangat bagus dalam menciptakan karya secara manual. Di satu sisi lainnya ada generasi yang lebih cepat, lebih dinamis, instan, tapi seringkali bingung mau berjualan apa,” tekan Dennis. “Yang dicari sekarang adalah kolaborasi antara mereka yang paham digital, dengan mereka yang sudah sangat credible dan bepengalaman dalam menciptakan produk-produk secara manual. Kenapa nggak saling kolaborasi?” rampungnya.

Melalui pemaparan Dennis di atas, apakah teman-teman sudah siap bertanding di pasar digital? (*SDD/vio)

 

Sumber:

https://inet.detik.com

mm

Sky Drupadi

Add comment

Translate »