Cerita Prasmul

Pemuda-Pemudi Nusantara Bersatu Untuk Melongsorkan Perpecahan di ICN 2019

Di bawah rintik hujan, 34 delegasi yang mewakili tiap provinsi di Indonesia berpesta pora dengan ceria pada ajang Indonesian Culture and Nationalism (ICN) 2019. Berlangsung dari tanggal 11-14 April 2019 lalu, ICN Festival merupakan event penutup dari rangkaian kegiatan ICN yang diselenggarakan oleh Student Board Universitas Prasetiya Mulya. Agenda tahunan ini bertujuan untuk meningkatkan rasa nasionalisme dengan mempertemukan generasi muda Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Wujud Promosi Nasionalisme Untuk Masyarakat

Para delegasi membaca Ikrar Pemuda di pembuka acara ICN Festival 2019.

Walaupun tetap setia pada core kebangsaan, tahun ini membawa perbedaan signifikan pada perhelatan ICN Festival. Sejak tahun 2014, ICN hanya diadakan di Kampus BSD Prasetiya Mulya. Kali ini, keseruan acara diboyong ke masyarakat, tepatnya di Living World Alam Sutera. Alisna Yanni, Prasmulyan S1 Business yang menahkodai ICN 2019, mengatakan bahwa hal tersebut dilakukan agar warga di luar kampus aware akan keberadaan lomba proyek sosial yang berkontribusi pada pemajuan Indonesia.

“Sebelumnya, ICN Festival berbentuk seminar di kampus. Kali ini kami ubah konsepnya,” jelas Alisna. “Agar lebih terasa seperti sebuah perayaan, kami undang artis, penyanyi, dan stand-up comedian yang bisa meramaikan festival.”

“Kita tidak perlu ngomongin tentang ‘arti’ nasionalisme, melainkan pengaplikasiannya di kehidupan nyata.”


Elisa Jonathan, Runner-Up Miss Indonesia

Tidak menghilangkan unsur talk show, ICN 2019 tetap mendatangkan beberapa pembicara yang bisa menyumbangkan pandangan mereka tentang makna menjadi seorang nasionalis.  Reynold Hamdani (Managing Director SabangMerauke), Elisa Jonathan (Runner-Up Miss Indonesia), serta Andanu Prasetyo (CEO Toko Kopi Tuku) memberikan inspirasi melalui kisah mereka dalam memperjuangkan toleransi dan mempromosikan keragaman Indonesia. ”  

(Ki-Ka): Reynold Hamdani, Elisa Jonathan, Andanu Prasetyo.
Andanu, yang merupakan alumnus Prasmul, memberikan work shop tentang pembuatan kopi.

Bicara tentang nasionalisme, Reynold mengatakan bahwa tiap orang memiliki coraknya masing-masing. Bergerak di bidang sosial, pria yang akrab dipanggil Rey ini memutuskan untuk mengonversikan amarahnya terhadap intolerance menjadi hal positif, yakni dengan menanamkan toleransi pada anak-anak muda melalui organisasi non-profit SabangMerauke. Begitu pula Elisa yang menyulut aksi di sektor kesehatan, serta Andanu di budi daya petani.

“Kita memposisikan diri untuk mensyukuri perjuangan leluhur,” ujar Andanu. “Tapi bukan berarti kita berhenti dan tidak melanjutkan kerja keras mereka untuk negara tercinta ini.”

Kegiatan fashion show memamerkan pakaian adat para delegasi.

Selain sesi talk show, ICN 2019 tentu tidak melupakan bintang utama mereka yaitu ke-34 delegasi. Tampil di hadapan pengunjung mall, wajah mereka berseri dengan bangga ketika memamerkan pakaian tradisional serta bahasa. Bukan itu saja, para representatif tersebut juga berkesempatan untuk unjuk bakat mereka. Secara berkelompok, mereka menyajikan hiburan tari, grup band, sampai pembacaan puisi.

Disuguhi Berbagai Kegiatan Nasionalisme

ICN Festival bukan kegiatan tunggal yang dinikmati para delegasi. Sebelumnya, mereka dikumpulkan di Kampus BSD Prasetiya Mulya untuk mengikuti diskusi kebangsaan dalam kegiatan ICN Conference. Memilih satu di antara 5 kategori (kepemudaan, kewirausahaan, lingkungan, pendidikan, dan kebudayaan), para peserta menyampaikan aspirasi dan solusi untuk menyelesaikan masalah serta menyejahterakan provinsi mereka masing-masing. Di akhir konferensi, dipilih pemenang dari tiap kategori untuk dihadiahkan sokongan dana yang dapat merealisasikan proyek mereka.

Ni Kadek Ayu Silviani dari Bali menyampaikan bahwa provinsi yang ia wakili telah memenangkan proyek selama dua tahun berturut-turut. Walau awalnya merasakan tekanan, gadis jelita ini berhasil mempertahankan kedudukan Bali sebagai jawara di ICN.

“Iya, saya senang bisa menang,” tutur Ayu. “Tapi saya juga dapat relasi, teman-teman baru dari 33 provinsi. Itulah yang lebih penting.”

“Budaya sudah mulai pudar di anak muda. Kita di sini untuk menguatkan kembali budaya Indonesia.” 


Ni Kadek Ayu Silviani, Provinsi Bali  

Selain konferensi, para peserta ICN juga diundang untuk mengikuti  rangkaian workshop seperti membatik dan brush lettering yang makin mencerminkan tema ICN tahun ini, NOESANTARA alias Noesa Satu di Antara Kita.

Suasana Akrab yang Memancar


Walaupun berasal dari provinsi yang berbeda, para delegasi mampu menjalin persahabatan hangat.

Tiap tahunnya, ICN sukses mempertemukan pemuda-pemudi dalam rangka melongsorkan perpecahan di antara rakyat Indonesia. Karena direlokasi ke tempat umum, semua orang kini bisa ikut merasakan pancaran persahabatan yang telah dijalin oleh para delegasi selama berhari-hari. Selain itu, kegiatan bertukar suvenir serta keindahan suara tawa membuktikan keakraban di balik perbedaan warna-warni pakaian adat serta dialek mereka.   

“Kita yang dari daerah Timur wajib ikut kegiatan seperti ini agar wawasan kita terbuka dan tidak dicap primitif.”


Elsina Salakay, Provinsi Papua

Muhammad Syafaat berpendapat bahwa ICN bukan hanya wadah untuk menyampaikan cita-cita untuk bangsa, tapi juga kesempatan untuk bersosialisasi langsung dengan sesama pemuda. Menerima ilmu baru mengenai berbagai belahan di Indonesia, representatif dari Sulawesi Tengah ini senang dapat menceritakan sudut pandangnya.


Para delegasi berkelompok untuk menyajikan penampilan di ICN Festival.

“Saya bangga bisa mewakili Sulawesi Selatan, terutama pasca gempa,” kata Syafaat. “Selain mengikuti kompetisi, saya bisa turut meluruskan banyaknya berita hoax yang tersebar mengenai musibah yang menimpa Palu kemarin.”

“Anak muda harus tahu cara berkontribusi pada Indonesia. Kita harus tetap bersatu, bersama, dan tidak ada perpecahan.”


Muhammad Syafaat, Sulawesi Tengah           

Menang atau tidak, para delegasi tidak pulang dengan tangan kosong, melainkan dengan kepahaman yang lebih mendalam mengenai keberagaman Indonesia dan makna menjadi seorang nasionalis. Jika kamu juga ingin memberikan sumbangsih pada Indonesia serta membangun relasi dengan pemuda-pemudi Nusantara, yuk nantikan ICN tahun berikutnya!

Daftar pemenang ICN 2019:

  • Proyek Kepemudaan Terbaik – Eko Suprianto dari Kalimantan Tengah
  • Proyek Lingkungan Terbaik – Satria Maulana dari Sumatra Utara
  • Proyek Kebudayaan Terbaik – Ni Kadek Ayu Silviani dari Bali
  • Proyek Pendidikan Terbaik – Pawitrasari Mahestyas R. dari Jawa Tengah
  • Proyek Kewirausahawan Terbaik – Iwan Hadi dari Nusa Tenggara Barat
  • Delegasi Terbaik – Irsyad dari Gorontalo

Avatar

Sky Drupadi

Add comment

About Us

About Us

Our Main Website

Our Main Website

Instagram @Prasmul

  • Jangan gampang percaya dengan film Sci-fi yang menggambarkan robot sebagai musuh yang jahat. Nyatanya, mesin-mesin cerdas dapat membantu kegiatan sehari-hari, atau bahkan untuk sekadar menghibur. Ambil contoh Sophia the Robot, teknologi Artificial Intelligence ciptaan Hanson Robotics. Sejak aktivasinya di tahun 2016, ia telah menarik perhatian ahli teknologi, akademisi, dan seluruh masyarakat dunia.

Sophia menjadi tamu spesial dalam acara Youth Dialogue, salah satu rangkaian kegiatan 2019 CSIS Global Dialogue yang bertujuan untuk memperkenalkan teknologi di industri 4.0 pada generasi muda. Berlangsung pada 16-17 September lalu di Hotel Borobudur Jakarta, acara ini dihadiri oleh Hokiman Kurniawan (CEO Bahasa.id), Rama Aditya (Founder & CEO Qlue), serta Michell Setyawati (CEO Glair). Bikin makin seru, Youth Dialogue dipandu oleh standup comedian Mo Sidik!

2019 CSIS Global Dialogue merupakan kolaborasi antara Universitas Prasetiya Mulya, Centre for Strategic and International Studies, Plug and Play Indonesia, dan Pacific Economic Cooperation Council.
  • We cordially invite you to attend #ICASTEM2019 October, 30 2019 at #STEM Prasetiya Mulya. Free charge for participation, register via bit.ly/ICASTEM2019
  • Tahukah kamu dalam beberapa tahun ke depan banyak pekerjaan yang akan beralih ke automatisasi? Kalau begitu, bagaimana peluang kerja untuk kita? Cari tahu jawabannya di Seminar ‘Prospek Karir Generasi Z’ yang diadakan oleh Universitas Prasetiya Mulya.

Topik ini penting untuk kamu yang saat ini sedang duduk di kelas XII dan pastinya membutuhkan banyak informasi dalam menentukan jurusan kuliah.

Tidak hanya seminar karir, acara ini juga akan dilengkapi dengan konsultasi program studi bersama Faculty Member S1 Prasmul dan sekaligus pendaftaran tes untuk Kota Malang tanggal 3 November.

Seminar ‘Prospek Karir Generasi Z’ 
Sabtu, 28 September 2019
13.00 - 15.00
Atria Hotel Malang

Yuk register sekarang ke link prasmul.link/infosession.

Tempat terbatas.

#infosession #prasmul #infokuliah #malang
Prasmul on Media

See Prasmul on these Media!