Cerita Prasmul

Keseruan Nathanael Andika Belajar Lintas Budaya di Tsinghua University| Program Study Abroad Prasmul

 You never know how strong you are until being strong is your only choice. Dari study abroad ini, saya diuji untuk menemukan jati diri serta kemampuan yang sebenarnya, untuk berkembang dan memecah apa yang sebelumnya saya anggap tidak bisa dan yang paling penting; membantu saya melihat luasnya dunia luar.”

Nathanael Andika, Mahasiswa Universitas Prasetiya Mulya Jurusan S1 Branding – 2014 kembali mengingat kisah demi kisah yang ia lalui ketika menempuh pendidikan selama satu semester (semeseter 5 ke 6) di Tsinghua University, Beijing – China pada 2016 hingga 2017 awal. Bagi Nathan, momen ketika ia memutuskan untuk mengikuti tes seleksi peserta study abroad yang diadakan Pusat Kerjasama dan Penerimaan Bisnis Prasmul adalah langkah tepat.

Tsinghua University, Beijing – China

Persiapan menuju China

Mengikuti program study abroad di Prasmul mungkin tidak semudah kampus lain. Menurut pengalaman Nathan, untuk berhasil diberangkatkan ke kampus favorit sekaligus tertua di China tersebut, ia dan peserta lainnya harus lolos rangkaian tes yaitu memiliki IPK minimal 3.20, memiliki IELTS Score minimal 6,0 dan memahami basic mandarin “ Setelah melalui tahap interview, kita juga harus siapin skill bahasa Mandarin. Untungnya Prasmul memberikan kelas persiapan bahasa mandarin selama sebulan sebelum keberangkatan,”katanya.

Bukan hanya berbekal itu saja, Nathan juga mengaku sangat mempersiapkan mentalnya mengingat perlunya daya juang yang tinggi untuk bisa masuk dalam kultur belajar di China “ Rasa takut sempat menghampiri  karena dengar cerita dari senior yang sudah ke Tsinghua, mereka rata — rata IPKnya turun. Tapi karena lolos rangkaian tes-nya ditambah juga sudah terbiasa dengan kultur kompetitif di Prasmul, saya jadi berketad bulat dan show must go on!.

Jessica Ivana, Nathan dan Cindy, 3 peserta yang berangkat study abroad ke Tsinghua University

Butuh Penyesuaian

Nathan tergabung menjadi bagian dari Mahasiswa School of Economics and Management Tsinghua University. Ia memutuskan untuk mengambil 4 mata kuliah umum yaitu International Business, Management System Simulation, Elementary Chinese, Enterprise Resource Planning dan Intro to electronic business. Seperti kebanyakan anak rantau pada umumnya, Mahasiswa S1 Branding Prasmul ini juga butuh penyesuaian terhadap kultur di negara tersebut, terutama kultur belajarnya.

Nathan mempelajari banyak budaya belajar baru, terutama ketika menghabiskan waktu kelas. Dalam ruang kelas amphitheater yang luas dengan jumlah mahasiswa yang banyak, Nathan beradaptasi dengan setiap tugas hingga cara bergaul “Karena saya mengambil matkul umum, tugas biasanya berbentuk paper dan jenisnya-pun perorangan. Project pernah ada, hanya durasinya tidak sepanjang project yang ada di Prasmul,” ia menambahkan  “Disana mahasiswanya sangat berambisi untuk belajar. Perpustakaan selalu penuh bahkan sabtu minggu, mereka bisa saja menghabiskan waktu seharian di perpustakaan, baca sampai bahkan ketiduran disana,” paparnya.

Bersama teman-teman lintas benua

Meski Tsinghua Uni berlokasi di Asia, mahasiswa yang tergabung di kelas terdiri dari ragam negara di belahan dunia dengan latar belakang yang berbeda. Menurut Nathan, corak tersebut sangat membuka wawasan dan kemampuan beradaptasinya “Mahasiswa lokalnya sangat rajin, mungkin alasannya karena mahasiswa terbaik dari setiap provinsi pasti berkuliah disini,” Ia menambahkan “Saya juga sekelas dengan mahasiswa dari Amerika Latin, Jerman bahkan Denmark, cara belajar mereka lebih berbeda. Lebih chill.

Tangguh Karena Kultur Prasmul

Jika ditanya mengenai persamaan antara mahasiswa Tsinghua dan mahasiswa Prasmul, jawabannya adalah persamaan mahasiswa positif dalam miliki jiwa kompetitif dan ambisi untuk menunjukan performa terbaik. Sebagai mahasiswa Prasmul yang sudah paham betul karakter dan kultur yang berkembang di Prasetiya Mulya, Nathan melihat persamaan yang ada “Disana, mahasiswanya juga tidak main — main dengan nilai. Untuk mendapat nilai bagus-pun tidak mudah, harus struggling juga. They strive for the best, like we did in Prasmul.”

Tantangan tugas yang Nathan terima pun tidak mudah, ia akui tugas tersusah selama berkuliah disana adalah Management System Simulation “ Iya, susah karena harus belajar software, asah kemampuan logic dan statistic yang kuat,”tuturnya. Namun, ia cukup tangguh untuk bisa sukses melalui mata kuliah tersebut karena di Prasmul-pun mendidik mahasiswanya untuk menerima tantangan dan memecahkan ketidakmampuan yang dihadapi.

Pernah pada suatu kesempatan, Nathan mendapatkan tugas kelompok. Ia melihat beberapa teman-teman disana, terutama yang terbiasa dengan pola belajar individualis merasa kesulitan untuk berbaur atau sekedar menyampaikan ide dalam forum kelompok yang dibentuk. Nathan menemukan keuntungan berkat kultur kerja kolektif atau kerjasama kelompok yang diterapkan Prasmul, karena kultur tersebut membiasakan dirinya untuk percaya diri dan kolaborasi.

Tak Hanya Kegiatan Akademis

Meski kuliah selama  4 hari dalam seminggu,  Nathan tetap menyibukkan diri untuk mengembangkan softskill-nya selama disana. Pria yang tergabung dalam teater Sanskerta Prasmul ini mengatakan “Di sana saya juga ikut musical club, saya mendapat kesempatan untuk kolaborasi dengan teman-teman dari Korea bahkan Amerika. Saya beruntung banget bisa berpartisipasi menjadi choreographer dalam show case drama musikal Wicked.Benar-benar stress reliever.

Bersama para Cast WICKED
Bersama crew drama musikal WICKED

 

 

 

 

 

 

 

 

6 bulan jauh dari rumah juga terkadang membuat Nathan dilanda home sick. Jika sudah demikian, ia punya obat ampuhnya “Biasanya saya kumpul bareng dengan mahasiswa Indonesia lainnya. Saya ikut  Komunitas Anak Indonesia di Tsinghua (KAIT), Persekutuan Mahasiswa di Tiongkok (PERMIT) hingga acara gereja,” jelasnya secara antusias.

 

Persekutuan Mahasiswa di Tiongkok
Memperkenalkan alat musik Indonesia di China

Pengalaman Yang Tak Bisa Dibeli

Bagi Nathan, pengalamannya selama berkuliah di Tsinghua merupakan kesempatan emas yang sangat berarti untuk hidupnya. “It’s different. Ketika kamu datang ke suatu negara untuk liburan dan belajar itu ada perbedaan tersendiri, meski bukan hanya mengalami hal yang menyenangkan. Dengan pengalaman disana, saya belajar untuk menghadapi masalah, merasakan secara nyata bertambahnya wawasan, belajar berinteraksi secara intens,” tutupnya.(*VIO)

Add comment

Translate:

About Us

About Us

Our Main Website

Our Main Website

Instagram @Prasmul

Instagram has returned invalid data.
Translate »