Cerita Prasmul

Evi Armilasari: Transformasi Seorang Dokter Menjadi Marketer – Alumni Success Story

Setelah lebih dari enam tahun menuntut pendidikan di bidang kedokteran, Evi Armilasari resmi menjadi seorang dokter di tahun 1999. Namun, selang dua tahun kemudian, sebuah situasi memaksa Evi untuk meninggalkan pekerjaan impian tersebut dan membuatnya banting setir ke dunia pemasaran. 

Meski keputusan berprofesi “hanya” sebagai seorang marketer disesalkan oleh banyak pihak, Evi sama sekali tidak menyesal. Ia justru menemukan passion baru di dunia yang asing ini.

The Road to be A True Marketer

Di awal karirnya, Evi terjun dalam bidang pemasaran bermodalkan tekad dan pengetahuannya tentang dunia kedokteran. “Karena saya pernah menjadi dokter, paling tidak bahasa saya sama dengan dokter, perawat, dan rumah sakit yang jadi klien saya. Menjual produk pun seharusnya lebih mudah.”

Seiring menanjaknya karir, ia pun menyadari bahwa pengetahuan tentang kedokteran saja tak lagi mampu mencukupi tuntutan pekerjaannya. Sebab, kini ia tak hanya sekedar berjualan produk, melainkan juga harus memikirkan corporate strategy– ke mana perusahaan akan berkembang, portfolio apa yang harus dimiliki, serta menyelaraskan dengan regulasi yang ada. “Di bagian ini saya kesulitan, karena saya terbiasa melihat permasalahan seperti puzzle, bukannya big picture.”

Evi saat menjadi salah satu pembicara di acara Info Session for MM Program

Menyadari kelemahannya, ibu dari tiga anak ini memutuskan untuk kembali ke bangku kuliah sembari berperan sebagai anggota direksi sebuah perusahaan. “Sulit memang membagi waktunya. Tapi saya ingin melengkapi puzzle dan mengonfirmasi pengetahuan saya dapatkan dengan teori yang ada,” ujar Evi bersemangat. 

Selain kendala waktu, Evi yang haus akan pengetahuan tak merasakan hambatan yang signifikan saat kembali ke dunia akademik. “Belajar lagi itu exciting sekali,” begitu kata Evi kala ia menjelaskan betapa senangnya ia berdiskusi dengan para kolega dan profesor di dalam dan luar kelas. “Pemikiran saya terbuka, pengetahuan saya pun bertambah. Rasanya perjuangan saya worth it.”

Dunia Kesehatan: Satu Industri, Ribuan Regulasi

Adalah fakta bahwa tidak ada satu manusia pun yang tak membutuhkan produk kesehatan. Inilah mengapa wajar bila Evi mengatakan bahwa geliat industri kesehatan tidak akan pernah padam. Namun, bukan berarti pekerjaan perusahaan kesehatan menjadi lebih mudah. “Produk kami berhubungan erat dengan nyawa manusia. Oleh karena itu, regulasi yang diterapkan pun sangat ketat” ungkap Evi. 

Pemasaran menjadi salah satu proses yang sangat diatur oleh pemerintah Indonesia. Evi menjelaskan, “Segala bentuk iklan dan kegiatan pemasaran harus mendapatkan izin dari Depkes dan BPOM,” sebutnya. “Kami harus menjaga etika. Jangan sampai pesan di materi promosi kami menyesatkan konsumen.”

Ilustrasi alat kesehatan

Regulasi juga memunculkan tantangan di bidang produksi dan penjualan barang. “Di industri alat kesehatan, pemerintah mengeluarkan aturan bahwa perusahaan multinasional harus memproduksi barang secara lokal,” jelas Evi. “Akhirnya, kami harus mempersiapkan local production, menentukan produk yang akan dijual, mendapatkan lisensi dan sertifikasi, lalu mengatur ulang strategi pemasarannya.” 

Banyaknya pekerjaan rumah perusahaan multinasional, ditambah dengan kualitas produk yang tinggi menyebabkan harga alat kesehatan produksi BSN Medical tidak bisa dipatok terlalu rendah. Hal ini pun semakin menyulitkan penjualan produk alat kesehatan, “Karena dana mereka terhalang tunggakan BPJS, rumah sakit mencari produk murah dan berkualitas. Padahal, kami tidak bisa menurunkan harga produk kami karena cost produksi yang tinggi.”

Meski harus menghadapi tekanan dari sana-sini, Evi tak pernah gentar. Ia memiliki satu prinsip yang selalu ia pegang, yaitu jangan terlalu berfokus pada produk, berfokuslah pada value. 

Jika diaplikasikan dalam penjualan, prinsip ini mengingatkan Evi untuk tidak terpaku hanya pada persaingan harga, melainkan pada nilai tambah produk. “Dengan mempercayai value produk saya, saya lebih pede bilang ke profesor dan rumah sakit bahwa nggak papa beli alat yang mahal di awal, toh akan tertutup dengan efisiensi biaya selama pemakaiannya.“

Prinsip ini pun sangat membekas bagi Evi secara pribadi. Dengan menerapkannya, Evi tidak hanya berfokus pada titel dan latar belakang seseorang, “Selama ia punya value; komitmen untuk terus belajar, kesuksesan akan datang dengan sendirinya,” ungkapnya. 

Witha Shofani

Witha Shofani

Add comment

About Us

About Us

Our Main Website

Our Main Website

Instagram @Prasmul

Unable to communicate with Instagram.
Prasmul on Media

See Prasmul on these Media!

[nextpage title=”1″ ]

September 2018

[/nextpage][nextpage title=”2″ ]

Agustus 2018

[/nextpage][nextpage title=”3″ ]

Juli 2018

Juni 2018

[/nextpage][nextpage title=”4″ ]

Mei 2018

April 2018

[/nextpage][nextpage title=”5″ ]

Maret 2018

[/nextpage][nextpage title=”6″ ]

Februari 2018

[/nextpage][nextpage title=”7″ ]

Januari 2018

Oktober 2017

Oktober 2017

[/nextpage][nextpage title=”8″ ]

September 2017

Agustus 2017

[/nextpage]