Cerita Prasmul

5 Hal Yang Bisa Memicu Kegagalan dalam Membangun Startup (Menurut Para C-Level)

Membangun bisnis atau berkarier di perusahaan startup nyatanya bukan tren musiman di kalangan generasi milenial maupun juniornya, generasi Z. Thanks to our beloved unicorn! Karena kesuksesan kalian nyatanya menjadi wake up call bagi muda-mudi Indonesia untuk turut memajukan perekonomian indonesia lewat entrepreneurship.

Sebagai bentuk dukungan bagi insan muda yang merintis bisnis, Vikra Ijas (Co-Founder Kitabisa.com), Yohanes Sugihtononugroho (Co-Founder Crowde), dan Imron Hamzah (Founder Anterin) berbagi kisah dan pengalaman mereka lewat diskusi kasual bertajuk “Are You Ready to Startup”, yang diadakan New Ventures Innovation (NVI) Prasetiya Mulya dan Lingkaran.co, pada Kamis (9/7), di Conclave Wijaya, Jakarta Selatan.

Bukan cuma kisah kesuksesan yang bisa jadi inspirasi, namun cerita kegagalan pun turut menyumbangkan ilmu untuk para pebisnis startup.

Ketiga sosok yang menduduki C-level dalam perusahaanya ini bersedia meminjamkan ‘kacamata’ mereka, agar audiens bisa melihat lebih jauh faktor-faktor apa saja yang berpotensi memicu kegagalan dalam membangun startup. Well, selamat menyerap ilmu segar di hari ini, Prasmulyan!

  1. Orientasi bisnismu hanya profit margin? coba deh dipikir ulang.

Jauh sebelum Crowde  berdiri, Yohanes Sugihtononugroho (Alumnus S1 Prasetiya Mulya 2011) menemui banyak kendala yang berujung kegagalan dalam bisnisnya. Pria yang akrab disapa Oyong ini bercerita, ihwal kegagalannya ternyata berasal dari penentuan orientasi bisnis yang tidak jitu.

“Dulu bisnis yang saya bangun selalu fokus ke profit margin. Menurut pengalaman saya, tidak ada bisnis yang berhasil ketika hanya terpaku dengan profit margin,” kata Oyong.

Sebelum menemukan keberhasilan bersama Crowde, Oyong sempat melalui kegagalan yang cukup signifikan dalam perjalanan kariernya.

Setelah beberapa kali berpapasan dengan kerugian, Oyong dan rekannya mengubah orientasi bisnisnya menjadi lebih impactful.  Melalui Crowde, ia mendigitalisasi konsep patungan dan gotong royong yang ada di Indonesia menjadi lebih modern.  Harapannya,  platform Crowde bisa memudahkan para investor untuk melakukan pemodalan kepada petani.

“Crowde kami bangun karena cita-cita ingin merevolusi industri agrikultur, sehingga petani yang notabene ngasih makan kita setiap hari juga bisa sejahtera hidupnya,” ucap pria yang terpilih sebagai Forbes 30 under 30 Asia berkat Crowde ini. Dengan goal tersebut, Crowde yang awalnya hanya berasal dari diskusi Whatsapp group membuktikan berkembang lebih matang menjadi platform yang punya dampak.

  1.   Kalau Value proposition dan market fit-nya tak jelas, produk keren bukan jaminan sukses!

Keren saja tidak cukup untuk membuat produkmu laris di pasaran. Sebuah bisnis startup harus bisa menentukan value proposition, yakni keunikan produk yang bisa menjawab kebutuhan pasar yang dituju. Kendala menurut Vikra, pendiri bisnis startup seringkali terjebak dengan idealisme ketika menentukan value proposition bisnis.

“Menurut idealisme, produk ini keren dan pasti laku. Tapi ketika value proposition tersebut ditawarkan, produknya kok malah nggak terpakai? Itu artinya antara values proposition dan market fit-nya nggak ketemu,” jelas Vikra.

Menurut Vikra, para pebisnis tidak boleh terlalu egois dan idealis dalam menjual produk mereka. Kebutuhan pasar dan keinginan masyarakat pun kudu jadi bahan pertimbangan.

Pria yang awalnya menjabat sebagai Chief Marketing Officer di Kitabisa.com ini pun belajar dari para startup unicorn tanah air, salah satu kunci kesuksesan sebuah bisnis startup adalah value proposition yang jelas, sesuai, dan mudah dimengerti target pasarnya.

Sempat menemukan kegagalan dan melewati trial and error selama 2 tahun demi ‘jualan’ Kitabisa.com ke market satu dan lainnya, Kitabisa.com akhrinya bisa menentukan value proposition yang matang setelah 6 tahun berdiri. “Dulu, kami nawarin produk ini ke makers space, aktivis sosial, hingga kampus-kampus, tapi ternyata marketnya belum siap,” papar Vikra. Dari perjalanan panjang tersebut, akhirnya Vikra mengetahui bahwa value dari produk Kitabisa.com saat ini adalah campaign bernuansa sosial seperti medis dan pendidikan.

  1. Mudah goyah karena peluang

Setiap hal yang dikerjakan dengan tepat, pasti mendatangkan peluang yang makin banyak. Peluang-peluang tersebut akan banyak kalian temukan saat menapaki scalling stage. Menurut pengalaman Oyong, peluang bisa menyesatkan jika tak dipilih berdasarkan pemikiran yang matang.

Ia berkata, “Opportunities makin hari makin banyak. Semakin berkembang, pelaku startup pasti makin centil untuk coba sana-sini, di tahap inilah bisa jadi tujuan kalian malah berubah arah.” So, mutlak adanya untuk stick with the plan dan tahu apa konsekuensi ketika melangkah, Prasmulyan!

  1. Irit dalam berbagi ilmu 

Kompetisi di dunia bisnis memang menjadi sesuatu yang tak terelakkan. Tapi bukan berarti kamu jadi pelit berbagi ilmu dengan sesama rekan startup-mu, lho! karena tanpa rekan bercerita dan bertukar ilmu, membangun bisnis startup akan menjadi perjalanan panjang, sunyi, dan melehakan.

Para narasumber berpose bersama peserta talkshow yang penuh antuasias dalam mengikuti acara.

“Dulu pas Kitabisa.com masih di tahap awal, gue banyak dapat ilmu dari Ahmad Zaki Bukalapak, teman-teman di Gojek, bahkan dari komunitas pelaku startup. Mungkin tanpa ilmu dan masukan berharga dari mereka, sekarang Kitabisa.com belum jadi apa-apa,” tutur Vikra.

Selain alasan tersebut, kamu yang irit dalam berbagi ilmu juga bisa kehilangan banyak momentum emas. Karena biasanya, dengan saling bertukar pikiranlah kalian bisa menemukan solusi terhadap permasalahamu misalnya dalam mencari partner, investor, bahkan mentor!

  1. Modal bukan hanya uang,uang, dan uang!
Dalam membangun bisnis, uang tidak boleh dijadikan modal satu-satunya.

Tak melulu soal uang, CEO Anterin Imron Hamzah (Alumnus MM Prasetiya Mulya) menutup poin ini dengan insightnya, bahwa modal dalam mendirikan startup bukan hanya dana atau uang. Ia mengatakan,“Modal yang tak kalah penting dalam membangun bisnis startup adalah tim yang solid dan mentor.”

Gimana Prasmulyan, sudah siap membangun bisnis startup-mu?  Let’s hacking the high growth paths with  NVI Prasetiya Mulya. (VIO)

Vitry Octavia

Vitry Octavia

Add comment

About Us

About Us

Our Main Website

Our Main Website

Instagram @Prasmul

  • 11 MORE DAYS TO INFO SESSION PRASMUL DAY!

Ini merupakan kegiatan penutup Prasmul Day 2019 yang bisa berikan gambaran serta experience bagi kamu siswa/i SMA kelas XII yang akan memasuki masa perkuliahan. Prasmul Day tahun ini dikemas dengan tema film dan kamu bisa ikuti berbagai section yang menarik!

Yuk catat tanggalnya:
3 – 4 Agustus 2019
09.00 – 16.00 di Kampus BSD, Universitas Prasetiya Mulya
Registrasi: prasmul.link/infosession 
Gratis dan dibuka untuk umum, termasuk orang tua.

Jangan sia-siakan kesempatan ini! Langsung daftarkan diri kamu dan sampai bertemu di Prasmul Day 2019!

Life is a movie and you are the director. Write your future, direct your future, win your future

#winyourfuture #prasmulday2019
  • Selama event Prasmul Day berlangsung, masih banyak kegiatan lain yang mewarnai kampus BSD, lho. Tanggal 11-14 Juli kemarin, Student Board Prasetiya Mulya, organisasi kemahasiswaan Prasmul, mengadakan Art Week 2019 di Grand Indonesia. Mengambil tema Sangka Rekah, ajang ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengapresiasi karya-karya seni, baik seni rupa, seni tulisan, sampai seni gerak.

Selain itu, ada juga acara beken yang berlangsung tanggal 13 Juli lalu, yaitu A.M Festival 2019. Festival musik ini mengundang musisi-musisi lokal, mulai dari Danilla, Elephant Kind, Polka Wars, sampai band internasional I Know Leopard. Seru banget deh bersama-sama berpesta dan menikmati musik!

Melalui kegiatan-kegiatan ini, tentu saja soft-skill mahasiswa terasah sampai tajam, terutama dalam merancang event, teamwork, dan berorganisasi. So cool!

Foto: dokumentasi @artweek.id dan @am.festival 
#PrasmulDay2019 #WinYourFuture
  • Wow, nggak kerasa sudah 7 hari Prasmul Day berlangsung. We have had so much fun so far! Bertemu dengan ribuan siswa/i dari berbagai sekolah, menginspirasi mereka dengan cerita-cerita alumni, serta mengenalkan mereka pada lingkungan pembelajaran di Prasmul. Semoga bisa berikan inspirasi ya.

Di hari ke-7 ini, Kak Gary Evano dari Puyo Desserts dan HAKA Dimsum kembali lagi hadir sebagai pembicara. Peserta dari SMA Notre Dame Jakarta serta SMA Madania Bogor pun semangat banget memberikan pertanyaan pada Kak Gary seputar membangun bisnis sukses.

Prasmul Day masih berlangsung hingga 4 Agustus. Bagi kalian yang ingin merasakan keseruannya, ayo datang ke Info Session Prasmul Day pada tanggal 3-4 Agustus 2019 mendatang. It's free and open for public! 
Jangan lupa registrasi dulu ya di prasmul.link/infosession agar tidak kehabisan kursi. Sampai bertemu!

#PrasmulDay2019 #WinYourFuture
Prasmul on Media

See Prasmul on these Media!